Penyakit Hipotensi

Penurunan tekanan darah yang dapat menyertai penyuntikan intraspinal obat anestesi lokal terjadi karena vasodilatasi yang terjadi bersamaan dengan depresi miokardium. Akan tetapi, peradaan rasa nyeri dan distres yang dihasilkan oleh terapi analgesia yang efektif dapat menjadi salah satu kontributornya.

Obat-obat anestesi lokal menghambat sistem saraf simpatik yang bertanggung jawab untuk mempertahankan kontriksi arteriole dan tekanan darah serta frekuensi jantung dalam batas yang normal. Karena itu, obat-obat ini berpotensi untuk mengganggu sistem kardiovaskuler dengan menimbulkan hipotensi, bradikardia dan bahkan henti jantung. Hipotensi maternal yang signifikan secara klinik, yaitu penurunan tekanan darah sistolik praanestesi sebesar 20-30 persen, atau tekanan darah sistolik di bawah 100 mm Hg, terjadi pada 5-15 persen proses melahirkan dengan pemberian anestesi epidural dan 5-82 persen proses melahirkan dengan anestesi spinal.

Resiko hipotensi akan menjadi lebih besar jika ibu hamil berada dalam keadaan dehidrasi atau hipovolemia. Karena itu, sebelum pemberian intraspinal obat anestesi lokal, harus diberikan dahulu lewat pembuluh vena cairan infus intravena seperti larutan krisaloid sebanyak 20-25ml/kg berat badan atau larutan senyawa laktat sebanyak 1 liter. Pemberian infus cairan harus mempertahankan aliran balik vena dan demikian pula curah jantung untuk mengatasi hipotensi.

Obat anestesi lokal yang menimbulkan vasodilatasi dapat mengurangi kemampuan pembuluh darah untuk melakukan vasokonstriksi sebagai respons terhadap perdarahan. Karena itu, pada perdarahan yang tidak begitu berat sekalipun dapat terjadi hipotensi dan kemungkinan terjadinya kehilangan darah postpartum akan semakin meningkat. Namun, untuk tindakan seksio Caesarea, jumlah darah yang hilang lebih sedikit daripada tindakan bedah dengan anestesi umum.

Setiap keadaan hipotensi maternal harus segera diketahui, karena aliran darah ke dalam uterus dan demikian pula oksigenasi janin akan berkurang kaitannya secara langsung dengan tekanan darah maternal. Dengan mengorbankan pasokan darah ke dalam plasenta, keadaaan hipotensi maternal dapat menyebabkan asidosis fetal dan menekan sistem saraf pusat neonatus.

Hipotensi akan diperberat lagi dengan kompresi aortokaval oleh kepala bayi, khususnya bila ibu hamil tersebut berbaring telentang atau sangat gemuk, atau jika uterus sangat besar karena kehamilan kembar, diabetes atau polihidramnion. Untuk menghindari kompresi vena kava, uterus harus bergeser ke lateral, ibu hamil yang mendapatkan obat anestesi lokal selama persalinannya harus menghindari posisi telentang (supinasi) yang meliputi posisi duduk pada tempat duduk yang dimiringkan ke belakang. Dan bidan harus memeriksa secara teratur posisi uterus. Ibu harus mengambil posisi lateral (atau posisi berbaring pada sisi tubuh), atau sebagai alternatif lain, posisi tubuh yang dimiringkan ke samping sebesar 20 derajat dengan sebuah ganjalan. Kompresi aortokaval dapat dikurangi jika Ibu mengambil posisi tegak dan melaksanakan ambulasi. Jika seorang ibu hamil (tanpa disengaja) berbaring telentang pada kehamilan aterm, aliran darah plasenta akan berkurang sebesar 20-30 persen tanpa perubahan pada tanda-tanda vital maternal. Jika posisi ini tidak diperbaiki, sindrom hipotensi supinasi yang menimbulkan kolaps maternal dapat terjadi kemudian. Keadaan ini menunjukkan bahwa praktisi harus mempertimbangkan pemeriksaan vaginal pada ibu hamil tersebut dalam posisi berbaring miring atau lateral.

Hipotensi lebih cenderung terjadi pada anestesi spinal (intratekal) dibandingkan pada anestesi epidural. Situasi yang beresiko tinggi ini meliputi :

- Pemberian dalam 30 menit pertama
- Ketika pemberian selanjutnya dilakukan untuk meningkatkan efek analgesia
- Kompresi aortokaval (yang membuat hipotensi timbul kembali ketika pasien berbaring telentang)
- Hipovolemia
- Ketika obat anestesi mencapai ketinggian segmen T4
- Jika sudah terdapat masalah jantung seperti blok jantung
- Posisi berdiri karena dapat menimbulkan hipotensi postural

Hipotensi maternal yang secara klinis signifikan, dengan mengorbankan janin, mungkin tidak bermanifestasi sebagai gejala maternal. Jika keadaan hipotensi ini tidak diperbaiki dalam waktu 2 menit, maka akan terjadi bradikardia fetal, asidosis dan depresi. Secara klinik mungkin sulit untuk mengaitkan abnormalitas frekuensi detak jatung janin dengan kerja langsung obat anestesi lokal atau dengan hipotensi maternal yang disebabkan oleh obat tersebut, kendati asidosis fetal pada saat seksio Caesarea merupakan komplikasi obat anestesi lokal yang sudah diakui


=====================================

>>> Kapsul Herbal Darah Rendah Untuk Mengatasi dan Mengobati Penyakit Darah Rendah Serta Menormalkan Tensi Darah, Produk Herbal, Klik Detail Disini!
=====================================


This entry was posted in Hipotensi and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>